Translate

Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Januari 2014

Posted by Unknown
No comments | 5:30:00 AM

Aku Tidak Akan Memilih Orang Lain Selain Dirinya


Ketika seseorang meninggalkan keluarga, kerabat, dan negeri yang telah membesarkannya, maka dia akan senantiasarindu kepada mereka. Dia akan rindu dengan ayahnya yang telah mendidiknya, ibunya yang mengasihinya, para kerabat yang hidup bersamanya, teman-teman sebaya yang dia telah habiskan masa kecilnya bersama mereka dan kampung halaman tempat dia besar. Merupakan suatu yang mengherankan, jika seseorang mempunyai kesempatan untuk kembali kepada keluarganya, tetapi dia justru mengalahkan keinginannya dan memilih tetap pada kehidupan barunya serta tetap tinggal di negeri yang bukan negerinya atau keluarga yang bukan keluarganya.

Salah satu orang yang mengherankan itu adalah Zaid bin Haritsah. Ketika dia masih kecil, beberapa orang Arab menculiknya dalam salah satu pertempuran Arab yang tidak pernah berhenti. Oleh para penculiknya, Zaid dijual di pasar Ukadz. Lalu dia dieli oelh Hakim bin Hizam untuk bibinya, Khadijah binti Khuwailid seharga empat ratus dirham. Kemudian dia dihadiahkan oleh Khadijah kepada Rasulullah saw setelah menikah dengan beliau.

Ayah dan pamannya kemudian mengetahui tempat tinggal dia. Keduanya lalu pergi ke Mekah untuk menebus dirinya. Mereka bertanya tempat tinggal Rasulullah saw, sampai akhirnya mereka dapat menemukannya. Mereka lalu datang dan berkata, "Wahai Ibnu Abdil Munthalib, wahai anak pembesar kaumnya. Kalian adalah penduduk Tanah Haram. Kalian menyelamatkan orang yang teraniaya dan kalian juga memberi makan para tawanan. Kami datang kepadamu karena anak kami yang menjadi budakmu. Maka, kasihanilah kami dan berbuat baiklah dengan menebusnya. Kami akan mengangkat kebesaranmu."

Maka Rasullullah berkat, "Ada apa sebenarnya?"

Mereka menjawab,"Zaid bin Haritsah"

Rasulullah saw berkata lagi, "Apa tidak ada yang lain? aku akan memanggilnya, maka berilah dia kesempatan untuk memilih. Jika dia memilih kalian, maka dia menjadi milik kalian tanpa tebusan. Dan jika dia memilihku, maka demi Allah, bukanlah aku yang meminta orang memilihku sebagai tebusan."

Maka mereka berkata,"Engkau telah memberi kami lebih dari keadilan."

Lalu, Rasulullah saw memanggil Zaid dan berkata kepadanya," Apakah kamu tahu siapa mereka?"

"Ya," jawabnya. "Yang ini adalah ayahku dan yang ini adalah pamanku."

Rasulullah saw kemudian berkata lagi, "Aku adalah yang telah kamu ketahui. Kamu telah melihat bagaimana persahabatanku denganmu. Maka, pilihlah diriku atau mereka."

Tanpa ragu-ragu dan berpikir banyak, Zaid langsung menjawab,"Saya tidak akan memilih selain dirimu. Engkau bagiku seperti ayah dan pamanku."

Hal itu sangat mengherankan, sehingga membuat ayah dan pamannya menjadi marah dan berkata,  "Celakalah kamu, Zaid. Apakah kamu lebih memilihnya dripada ayah, paman, dan keluargamu?"

Dia menjawab,"Ya. Saya telah melihat beliau ini seorang yang berbeda, yang tidak mungkin karena itulah saya harus memilih orang lain selain dirinya."

Ketika Rasulullah saw melihat hal itu dia menyuruh Zaid keluar dari ruangan dan berkata kepada kedua tamunya,"Jadilah kalian saksi bahwa aku telah mengangkat Zaid sebagai anakku yang mewarisiku dan yang kuwarisi." Melihat hal itu, hati ayah dan pamannya menjadi tenang lalu mereka pergi.

Kamis, 09 Januari 2014

Posted by Unknown
No comments | 4:59:00 PM

Syaikh Abu Bakar Jabir AI-Jazairi : Bukti Nyata Keberadaan Jin dan Syaithan


Syaikh Abu Bakar Jabir AI-Jaza-iri hafizhahullah bercerita:
“Saya pernah memiliki seorang kakak perempuan bernama Sa’diyyah. Pada suatu hari, ketika kami masih sama-sama kecil, kami mengambil setandan kurma melalui tali yang sudah diikatkan pada tandan tersebut. Saudariku —Sa’diyyah— menarik tali tersebut, namun ia kerepotan, hingga akhirnya setandan kurma tersebut jatuh ke tanah dan (nampaknya) menimpa salah satu jin. Sepertinya, jatuhnya setandan kurma tersebut membuat jin itu merasa kesakitan, hingga ia pun melakukan pembalasan kepada saudariku.
Jin itu terus mendatangi saudariku di saat tidurnya selama dua, tiga kali, bahkan lebih dalam sepekan. Jin itu mencekiknya, sementara saudariku hanya bisa menendang-nendangkan kakinya dan mengguncang-guncangkan tubuhnya seperti kambing yang disembelih. Jin itu tidak mau pergi melainkan jika saudariku sudah nampak seperti orang mati.
Suatu kali, jin itu mengatakan bahwa ia melakukan hal itu karena Sa’diyah telah menyakitinya pada hari dan tempat yang ia sebutkan.

Jin itu terus mendatanginya untuk menyiksa dan menyakitinya dengan cara menyurupinya ketika saudariku telah tidur hingga akhirnya membuatnya meninggal setelah jin itu melakukan penyiksaan yang tidak tertahankan, selama sepuluh tahun!
Di malam terakhir, jin itu datang untuk menyurupinya seperti biasa, lantas saudariku terus menendang-nendangkan kakinya hingga ia pun meninggal dunia. Semoga Allah memberi ampunan dan kasih sayang-Nya kepada saudariku. Amin.
Inilah kejadian yang saga alami sendiri dalam keluarga kami, dan kami melihatnya sendiri dengan mata kepala kami. Dan tentunya, orang yang melihat langsung tidaklah sama dengan orang yang hanya mendengar.” [Aqiidatul Mu'miin hal.175, Karya Syaikh Abu Bakar alJabir al Jazaa-iri hafizhahullah]

Kamis, 02 Januari 2014

Posted by Unknown
No comments | 1:40:00 PM

Cinta Rasulullah saw

Dalam sejarah Islam kita akan mendapati betapa kesetiaan dan kecintaan para sahabat yang tiada taranya terhadap Nabi Muhammad SAW. Zaid bin Ad Du-Tsunnah ketika hendak dihukum pancung kaum Quraisy, oleh Abu Sufyan ditanya, ''Zaid! Relakah engkau andai kata Muhammad berada pada tempatmu, sedangkan engkau aman tenteram di tengah-tengah keluargamu?"
 

Dengan tegas Zaid menjawab, ''Jangan kan yang itu, bahkan di saat aku dalam keadaan seperti sekarang ini, aku tak akan rela andai kata Rasulullah dicucuk duri di rumah beliau.'' Menyaksikan betapa cinta Zaid dan bersedianya dia menebus Rasulullah dengan jiwa raganya, Abu Sufyan menggeleng-gelengkan kepala.

Katanya, ''Saya belum pernah melihat seseorang yang dicintai oleh para sahabatnya seperti mereka mencintai Muhammad.'' Kemudian Zaid dipancung batang lehernya, gugur sebagai syahid. Zaid melambangkan cinta kasih, iman, dan loyalitas yang tidak ada taranya terhadap Islam.

Seorang tawanan Quraisy lainnya adalah Khubaib bin Ady. Ketika hendak dipancung, dia terlebih dahulu minta dibolehkan shalat dua rakaat. Setelah shalat, ia berkata, ''Demi Allah! Andai kata aku tidak khawatir kalian menyangka aku gentar menghadapi maut, niscaya shalatku akan lebih panjang lagi.''

Sebelum dibunuh ia disalib dulu. Ketika itu Khubaib mengarahkan pandangannya yang memancarkan kilatan seraya berdoa, ''Ya Allah! Bilanglah jumlah mereka! Bunuhlah mereka satu demi satu, dan janganlah seorang pun dari mereka ditinggalkan!'' Mendengar doa itu pihak Quraisy terperanjat dan bertiarap, khawatir terkena kutukan doanya.

Mengetahui dirinya akan dihukum mati, Khubaib yang menjadi tawanan tokoh Quraisy Uqbah bin Harris terlebih dulu meminta pisau cukur untuk membersihkan dirinya dalam menghadapi maut. Ketika sedang bercukur, tiba-tiba anak yang empunya rumah yang baru pandai berjalan tertatih-tatih mendatanginya. Anak tadi duduk di atas pangkuannya, dan Khubaib membelainya dengan mesra.

Tatkala istri Uqbah melihat anaknya dalam keadaan serupa itu, dengan cemas diambilnya anak itu dan dibawanya pergi. Khubaib pun berkata, ''Anda khawatir kalau-kalau anak itu saya bunuh. Ketahuilah, bahwa agama saya melarang penganutnya bertindak khianat. Karena itu, anak Anda ini tidak akan saya cederai, apalagi membunuhnya.''

Pernah seorang pemuka Quraisy di Mekah begitu kagum mendapati kesetiaan para sahabat terhadap Rasulnya, hingga ia mengatakan, ''Aku pernah menyaksikan Kisra di Persia, Kaisar di Byzantium, dan Najasi di Etiopia. Namun, aku tidak pernah menyaksikan seorang raja di tengah-tengah kaumnya, seperti Muhammad di tengah-tengah sahabat-sahabatnya. Sesungguhnya mereka tidak akan menyerahkan Muhammad walau bagaimanapun.''

Begitulah seharusnya sikap umat Islam kepada Rasulullah Muhammad SAW. Karena Rasulullah sudah wafat, kecintaan kepada beliau adalah dengan mengamalkan ajarannya dan meneladani perilakunya. (Alwi Shahab)

Rabu, 01 Januari 2014

Posted by Unknown
No comments | 7:16:00 PM

Berani untuk Kembali kepada Kebenaran

Keberanian itu bermacam-macam. salah satu keberanian yang paling tinggi nilainya adalah berani untuk kembali dari pendapat yang selama ini dia yakini benar, kepada kebenaran yang sesungguhnya. Di antara manusia yang memiliki sifat ini adalah Abdul Hasan al-sy'ari rahimahullah. Beliau dibesarkan di keluarga ayah tirinya yang bernama Abu Ali al-Juba'i. Ayah tirinya itu adalah salah satu ulama terkemuka dalam mazhab Mu'tazilah di masa itu. Abul Hasan al-Asy'ari meneguk ajaran-ajaran Mu'tazilah dan menjadi ulama Mu'tazilah yang disegani. Dia pun menjadi cermin bagi Mu'tazilah dan peletak dasar-dasar dan kaidah-kaidah mazhab tersebut. Dia menulis buku-buku Mu'tazilah yang besar dan berbobot. Sampai suatu ketika, dia mendapati kecacatan dalam dasar mahzab tersebut dan kerancuan dalam pendapat-pendapatnya yang membuatnya tidak lagi tunduk dan melayani mahzab tersebut.

Ibnu Asakir menukil dari beberapa ulama bahwa Asy'ari berkecimpung dalam mazhab Mu'tazilah selama empat puluh tahun. Dia telah menjadi salah satu ulama besar dalam mazhab itu. Sampai pada suatu ketika, dia mengasngkan diri dalam rumahnya selama lima belas hari. Setelah itu, dia datang ke masjid dan menaiki mimbar lalu menyatakan bahwa dia keluar dari mazhab Mu'tazilah dan selruh ajarannya. Dia pun lalu melepas pakaian dan membuangnya. Setelah itu, dia menyerahkan kitab-kitab yang dia tulis selama masa pengasingannya itu, yaitu kitab yang dia tulis dalam mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Keberaniannya juga terlihat dalam diskusi-diskusi dan debat-debat yang dia lakukan. Dia selalu mengakui kebenaran lawannya jika memang dia benar. Suatu hari, dia berdebat dengan seorang ulama sehingga dia kalah dalam debat itu. Setelah bedebat salah seorang muridnya menyuguhkan kepadanya kacang kenari dan kembang gula. Dia tidak mengambilnya, tetapi menyuruh muridnya itu untuk memberikannya kepada ulama yang mengalahkannya itu. Kerena menurutnya, dia lebih berhak atas penghoratan tersebut. Hal itu disebabkan orang itulah yag lebih kuat argumentasinya dan lebih sesuai dengan akal.''

Sangat sedikit orang-orang yang tidak suka untuk menang sendiri. Keinginan mereka hanyalah menjelaskan kebenaran. Karena, kebenaran adalah yang sesuatu paling berhak untuk diikuti.
Diberdayakan oleh Blogger.